Temu Alumni Nasional Menuju Indonesia Emas


Sekitar jam 10.00 WIB, acara Temu Alumni Nasional ESQ dibuka oleh Sugiharto (Menneg BUMN) dengan diawali tabuhan bedug, didampingi Ary Ginanjar Agustian (Presdir ESQ Leadership Center) serta Aries Muftie (ketua panitia). Lagu Indonesia Raya berkumandang dengan khidmat dan penuh haru di Istora Senayan Jakarta, mengawali dibukanya secara resmi acara akbar yang mempertemukan alumni ESQ se-Indonesia.

Selama 2 hari berturut-turut, sekitar 50 ribu alumni dan keluarganya dengan sangat antusia datang bergiliran mengikuti acara ini. Dari jajaran birokrat dan pejabat, tampak hadir Hadi Purnomo (Dirjen Pajak), Arwyn Rasyid (Dirut Telkom), DR Syaukani HR (Bupati Kutai Kartanegara), Ir Tarmizi Karim MSc (Bupati Aceh Utara), serta Drs Omay K Wiraatmadja, AK (Dirut Pupuk Kaltim). Hadir pula dari kalangan akademisi seperti: Prof Usman Chatib Warsa (Rektor UI) dan Prof Ahmad Anshori Matjik (Rektor IPB).

Pihak militer pun tak mau kalah ambil bagian, di antaranya: Mayjen TNI Asril Tanjung (Kaskostrad) dan Mayjen TNI Arief Siregar (Kababinkum TNI). Dari bidang hukum, ada Juninho Yahya (KPK), dan Prof Priyatna Abdurrasyid (Hakim Arbitrase Internasional).

Dari kalangan agamawan, tampak KH Amidhan (Ketua MUI) serta Rozy Munir (Ketua PB NU). Hadir pula tokoh senior seperti Azwar Anas, Bambang W Soeharto, dan Dipo Kesumo (Kasunanan Surakarta). Suasana menjadi kian hangat dan berkesan, ketika penutupan di hari kedua tanggal 15 Januari, yaitu saat Ibu Mufidah Jusuf Kalla berkenan hadir.

Para alumni berbondong-bondong menghadiri serta berkontribusi dalam ajang ini. Hampir dari seluruh propinsi di Indonesia turut menghangatkan acara ini. Mereka hadir dengan gerai usaha dan pentas seni. Mulai dari Propinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat hingga Sulawesi Selatan turut memberi kontribusi aktif.

Alumni Sumatera Barat yang dipimpin Herman Nawas, tiba dengan 3 pesawat dan berpakaian serba kuning keemasan. Begitu pula dengan rombongan dari Jawa Barat yang datang dengan 7 bus, bahkan alumni asal Malaysia pun turut serta dan berkontribusi membuka gerai, walau konon tak ada satu pun di antara mereka yang berprofesi sebagai pedagang.

Acara yang digelar begitu beragam. Di panggung utama, misalnya, setiap kordinator wilayah hadir menunjukkan kebolehannya dalam pentas seni, termasuk Korwil Aceh yang menyajikan Operet Tsunami. Kesenian popular juga terwakili oleh Dwiki Dharmawan, Sam Bimbo, Snada hingga Raihan. Beberapa diskusi dengan tema menarik digelar, juga jalan santai di hari kedua, menambah semarak acara Temu Alumni ini.

Di acara tersebut terdapat 250 peserta bazar dan 350 gerai, yang menjual produk yang beragam. Mulai dari produsen emping keprek, hingga kontraktor jembatan semua ada di acara ini. Termasuk jajanan bakso yang paling laris, bisa jadi para alumni percaya bahwa tak ada unsur formalin di sana, karena sang produsen sedikit banyak telah terwarnai oleh ESQ. Laba bersih dari ajang ini, (apabila ada) akan disalurkan untuk ESQ Peduli Pendidikan, yaitu untuk mentraining para guru secara cuma-cuma.

Para alumni dengan berbagai latar belakang profesi dan daerah, semuanya tampak bersilaturahmi dengan hangat. Boleh dibilang, ajang ini adalah miniatur dari Indonesia Emas, karena di tiap sudut wajah mereka terlengkung senyum tulus, sapa ramah serta salam semut yang hangat. Bagai tarikan medan magnet, mereka mendekat berpartisipasi. Tak ada satu jam pun yang sepi dari kunjungan.

Medan magnet yang seperti apakah yang membuat para alumni memadati Istora? Mengapa tampak kebersamaan, persatuan, kasih sayang dan kebahagiaan pada wajah dan sikap mereka, walau sejatinya mereka memiliki banyak perbedaan? Jawabannya adalah karena ESQ bukan partai politik, dan tidak punya kepentingan politik. Ia bukanlah organisasi massa, juga bukan organisasi dakwah, bahkan tidak juga LSM. Namun ESQ merekatkan mereka dengan spiritualisme.

Mereka disatukan oleh spiritualitas, sesuatu yang jernih. Spiritualisme adalah perekat, karena mengandung nilai-nilai universal yaitu: kejujuran; tanggung jawab; visioner; disiplin; kerja sama; adil; dan peduli. ESQ adalah “telaga kautsar” spiritual. Para alumni, tua, muda, pria, wanita hingga anak-anak datang dan bersatu di tempat tersebut karena sebuah gravitasi spiritual, yaitu nilai-nilai luhur yang menyentuh hati. Inilah wujud ESQ sebagai oksigen (O2) yang hadir di mana-mana, tanpa rasa, dan tanpa bau, namun memberi pemaknaan dalam kehidupan pada seluruh komponen bangsa.

Acara kemudian ditutup dengan tausyiah dan doa yang begitu menggetarkan oleh Ary Ginanjar. Sekitar 10 ribu pengunjung larut dalam haru dan isak mengamini untaian doa. Rangkaian doa bagi kebangkitan bangsa, ungkapan harapan untuk generasi penerus bangsa. Doa untuk terwujudnya Indonesia Emas.

“Wahai manusia. Sesungguhnya Kami menciptakan kalian pria dan wanita, dan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal…” (QS Al-Hujurat 13).

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s