The Bottom of Nationalism is Spiritualism


Darah nasionalis kental melekat dalam dirinya. Pun demikian halnya dengan spiritualitas. Baginya, tak ada dikotomi antara keduanya. “The bottom of nasionalism is spiritualism,” jelas Bambang W Soeharto, tokoh nasionalis kondang negeri ini Yang juga mantan anggota Komnas HAM.

Dilahirkan pada 19 Agustus 1943 di Surabaya, Jawa Timur, Bambang kecil banyak belajar dari pengalaman hidup. Kepahitan hidup yang dialaminya kala kecil dulu hingga dewasa membentuknya menjadi sosok kuat yang mandiri serta kreatif. Di usia 15 tahun, ia berjualan beras dengan modal dari gaji ibunya yang hanya seorang pegawai negeri. Beranjak dewasa, jiwanya makin matang. Berbagai aktivitas dan prestasi ia peroleh seperti menjadi Ketua DPP Generasi Muda Kosgoro (1978-82), Ketua DPP AMPI (1978-1984), Ketua DPP FKPPI (1979-1984), anggota FKP MPR RI (1982-1987) sampai anggota Komnas HAM (1993-1998).

Saat menjadi anggota Komnas HAM, ia tersadarkan akan makna bismillah. Ketika hendak berangkat ke daerah konflik, ia berkata pada alm Ali Said (Ketua Komnas HAM saat itu-red) bahwa ia memerlukan bekal. “Wis bismillah wae,” jawab Ali Said. Awalnya ia tak menyadari kedalaman makna kalimat tersebut.

Belakangan, baru ia sadari maknanya. Menurutnya, bismillah sarat akan makna hidup. Bismillah mengajarkan kita untuk ikhlas, siap dicela dan dicerca orang serta siap untuk menanggung kegagalan. Kita harus peduli pada sesama dan pasrah atau tawakal. Bekal itulah yang membuatnya berhasil saat bertugas di daerah konflik.

Kembali ia terkenang akan makna tersebut ketika mengikuti training ESQ, April 2005. Ia menemukan rediscovery of our spiritual power setelah selesai pelatihan. Baginya, the most important thing yang dilatih di ESQ adalah to refresh and to remind  arti bismillah. “Saya berani memberikan kesaksian bahwa hakikat kalimat basmallah tersebut, walau diucapkan oleh orang yang memiliki ilmu agama bagus, tapi kalau yang mengucapkannya tanggung-tanggung alias tak meresap dalam sanubarinya maka bismillah yang diucapkannya tak akan bermakna apa-apa,” urainya.

Sebagai tokoh nasionalis, ia tak sependapat dengan dikotomi nasionalis dan spiritualis. Baginya, keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. “Seseorang tak layak disebut nasionalis jika tidak spiritualis, sebaliknya, seseorang juga tak layak disebut spiritualis jika tidak memiliki jiwa nasionalis,” ujar suami dari artis Lenny Marlina ini. “The bottom of nationalism is spiritualism,” tegasnya.

Berbagai masalah yang mendera bangsa ini, ujarnya, tak lepas dari masalah  nasionalisme dan spiritualisme. Padahal, bangsa dan negara ini dilahirkan dari tingginya semangat nasionalisme dan spiritualisme. “Bukankah kemerdekaan negara kita bertepatan dengan bulan Ramadhan? Ini salah satu bukti nyata yang tak terbantahkan,” terangnya.

Di sinilah ESQ berperan strategis. “ESQ mampu meningkatkan rasa nasionalisme karena selama empat hari kita dilatih untuk menjadi cerdas spiritual. Ketika kita memiliki kecerdasan spiritual, maka akan berdampak pada jiwa nasionalisme yang kita miliki,” imbuhnya.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s