Perubahan Menuju Indonesia Emas


Perubahan adalah sebuah kepastian. Kapan pun dan di mana pun, pasti segalanya berubah. Ada yang berubah ke arah yang lebih buruk, ada yang ke arah lebih baik. Ada yang disebabkan bencana alam, ada yang karena ulah manusia sendiri. Apa pun sebabnya, situasi dan kondisi selalu berubah. Pertanyaannya, bagaimana mengarahkan perubahan tersebut?

Energi perubahan seperti sebuah pegas, apabila tekanannya besar akan mengakibatkan energi tekanan yang juga besar. Namun, permasalahannya adalah bagaimana kita mampu mengarahkan energi kinetik perubahan tersebut menuju ke arah yang benar. Dalam pekan-pekan terakhir, misalnya, kita bisa melihat energi perubahan tersebut mulai dari politik, ekonomi, bencana gempa dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, gempa di Papua, banjir yang melanda daerah Pantai Utara Jawa, tanah longsor di Jember, demam berdarah, flu burung, antraks maupun formalin. Ini layaknya tekanan pada pegas yang mengakibatkan manusia terdorong untuk beradaptasi melakukan perubahan. Tekanan ini mengharuskan manusia Indonesia menghadapi serta beradaptasi dengan segala perubahan. Proses menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan ini merupakan sebuah energi positif yang harus diarahkan.

Bagaimana The ESQ Way 165 memandang dan menyikapi perubahan? Perubahan adalah sebuah keniscayaan, karenanya perubahan menjadi misi ESQ. Untuk melakukan perubahan, ESQ lebih mengarahkan pada perubahan motif dan nilai yang dianut masyarakat, bukan hanya langsung mengubah perilaku yang merupakan dampak dari nilai dan motif yang dianut. Caranya adalah dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang pusat orbit yang benar sehingga secara otomatis perilaku akan bergerak pada garis orbit secara harmonis.Diibaratkan, bangsa ini seperti tata surya yang mempunyai pusat orbit dan planet yang jumlahnya banyak dan bergerak pada garis orbit serta mengitari pusat orbit. Yang dilakukan ESQ adalah mengajak seluruh unsur bangsa ini untuk bergerak harmonis bersama-sama pada garis orbitnya dan mengitari pusat orbit yang benar yang sejatinya merupakan sebuah keniscayaan atau hukum alam.

ESQ tidak mengajarkan secara langsung “Jangan korupsi!”, misalnya. Tapi motif atau pusat orbitnya yang harus kita ubah karena korupsi merupakan perilaku yang keluar dari garis orbit, dan untuk memperbaikinya adalah dengan mengembalikannya ke pusat orbit, yaitu dari materialisme menuju spiritualisme sehingga korupsi akan terhenti dengan sendirinya.

Karenanya, sejak tahun 2001, ESQ mulai melakukan langkah nyata untuk mengubah masyarakat. Saat itu, masyakarat masih berorientasi pada kecerdasan intelektual. Bangsa ini memiliki banyak orang pintar dan sumber daya alam yang melimpah, namun bangsa ini terus mengalami krisis yang tak pernah terselesaikan.

Bangsa ini sudah melakukan pergantian segalanya, termasuk sistem, namun perubahan yang diharapkan tak kunjung datang. Fenomena ini membuat ESQ berinisiatif untuk mengenalkan dua kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang harus ditekankan, didorong dan dikibarkan sehingga orientasi perbaikan tidak melulu pada perbaikan fisik namun juga emosi dan spiritual yang menjadi sumber penggerak. Pertama, kecerdasan spiritual harus menjadi pusat orbit yaitu manusia harus tahu apa nilai dan prinsip hidup yang benar. Kedua, manusia harus memiliki kecerdasan emosi, yaitu kemampuan untuk merasa apabila keluar dari garis orbit (kepekaan sosial). Ketiga, harus memiliki kecerdasan intelektual sehingga manusia berjalan pada garis orbitnya secara efektif dan efisien. Di tahun 2005, dengan upaya yang keras dan gigih, akhirnya masyarakat mulai menyadari dan mau menerima keberadaan ESQ.

Dengan mengenalkan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual, ESQ menghendaki perubahan masyarakat Indonesia menuju apa yang dinamakan “Indonesia Emas”. Indonesia Emas adalah sebuah masyarakat Madani yang sadar spiritual (SQ), mental yang tangguh (EQ), sekaligus mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi (IQ). Bukan hanya kesejahteraan ekonomi dan intelektualnya yang tinggi seperti bangsa Barat, tapi miskin spiritualitas. Atau sebaliknya, bukan hanya tinggi spiritualitasnya tapi lemah secara ekonomi dan intelektual.

Bagaimana mencapai visi Indonesia Emas 2020? Apabila kita melihat bagaimana Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madani, maka ada tiga tahapan untuk membentuknya. Pertama, tahap spiritualitas ketika manusia dibentuk untuk menyadari siapa dirinya, untuk apa ia dilahirkan dan siapa Pencipta dirinya.

Ini yang dinamakan sebagai era Gua Hira, ketika Surat Al ‘Alaq diturunkan. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu dari segumpal darah…”. Kedua, tahap mentalitas ketika manusia dibangun mentalnya untuk memiliki komitmen spiritual yang disebut sebagai era Mekkah. Ketiga, tahap pembangunan sosial ekonomi ketika masyarakat diberdayakan secara ekonomi dan sosial yang disebut sebagai era Madinah. Secara sederhana, ketiga tahapan tersebut kompatibel dengan urutan pelaksanaan ibadah haji yaitu Wukuf (Gua Hira), Thawaf (Mekkah) dan Sa’i (Madinah).

Wukuf adalah ketika manusia menyadari nilai-nilai spiritual yakni saat ia mengenal siapa dirinya, untuk apa dilahirkan dan apa tujuan hidupnya. Thawaf adalah ketika manusia membangun komitmen spiritualnya. Sa’i adalah ketika manusia mengaplikasikan nilai-nilai dan komitmen spiritual secara teguh dan setia dalam langkah nyata.

Menilik Teori Pembentukan Karakter menurut FW Foerster (1869-1966), ada 4 ciri dasar pembentukan karakter, yaitu nilai, koherensi dan otonomi, serta keteguhan dan kesetiaan. Hal ini sudah dijelaskan 4500 tahun yang lalu dalam ritual haji yaitu Nilai yang dibangun saat Wukuf di Padang Arafah – Koherensi dan Otonomi yang dibentuk saat Thawaf di Mekkah – Keteguhan dan Kesetiaan yang dibangun dengan Sa’i di Madinah.

Jika teori di atas dijadikan sebagai pembanding dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini, nampaknya bangsa ini langsung melakukan Sa’i yaitu berupa pembangunan ekonomi dan ilmu pengetahuan serta teknologi, tanpa memiliki nilai-nilai spiritual (Wukuf) dan komitmen spiritual (Thawaf).

Bagi seseorang yang melaksanakan ibadah haji, apabila ia tidak melaksanakan urutan ibadah haji dengan baik dan benar, maka akan terkena dam (denda/batal). Itulah yang terjadi dengan bangsa Indonesia sekarang. Adanya gempa bumi, tsunami, formalin, banjir bandang, tanah longsor, flu burung, demam berdarah merupakan bentuk “dam” yang harus diterima akibat melanggar urutan di atas.

Dalam konteks pembangunan masyarakat Madani, bangsa Indonesia diibaratkan langsung memasuki era Madinah tanpa melalui era Gua Hira untuk mengenal makna kehidupan tertinggi, dan tanpa melalui era Mekkah untuk membangun komitmen spiritual. Dampaknya, hingga saat ini, krisis multi dimensi terus melanda dan tak kunjung selesai, yang hanya menghasilkan masyarakat yang cerdas intelektual tapi rendah kecerdasan emosi dan rendah kecerdasan spiritualnya. Yang terjadi kemudian adalah seperti yang dikatakan oleh Thomas Hobbes: Homo Homini Lupus Belium Omnium Contra Omnes (manusia memakan manusia, yang kuat memakan yang lemah).

Ini berarti, Nilai – Komitmen – Keteguhan yang dbentuk melalui urutan Wukuf, Thawaf dan Sa’i adalah sebuah keniscayaan dalam membangun sebuah masyarakat Madani. Kesimpulannya, bangsa ini membutuhkan kecerdasan spiritual (SQ) untuk membangun nilai-nilai mulia dan luhur yang diperoleh ketika Wukuf di Padang Arafah; membutuhkan kecerdasan emosional (EQ) yang diperoleh saat Thawaf di Mekkah; membutuhkan kecerdasan intelektual (IQ) untuk mengaplikasikan nilai-nilai mulia dan komitmen spiritual tersebut dengan keteguhan seperti Siti Hajar yang berlari terus tak kenal lelah dari Bukit Shafa ke Marwah.

Hasilnya, air zam zam yang yang tak pernah kering selama lebih kurang 4500 tahun. Itulah Indonesia Emas.
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk jalan Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat” (QS An-Nashr : 1-3). Ary Ginanjar Agustian

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s