ESQ di Dies Natalis Universitas Indonesia ke-56 di FKUI


Dalam rangka Dies Natalis ke- 56, UI berniat menjadi world class University, dengan meningkatkan kualitas SDM. Dan ESQ pun diundang di FKUI untuk sebuah  awal perubahan baru.

Kampus UI Salemba, khususnya Fakultas Kedokteran, adalah tempat bersejarah bagi  perubahan di negeri ini. Kampus dari  mahasiswa berjaket kuning ini adalah  agen perubahan, seperti saat Gerakan Mahasiswa 1966 yang turut berperan dalam peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, dan Gerakan Mahasiswa 1998 saat peralihan Orde Baru ke Orde Reformasi. Dan bukan sebuah kebetulan, pada 7 Februari lalu, di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), terselenggara peristiwa yang mungkin akan menjadi awal dari sebuah perubahan. Ini mungkin baru pertama kali dalam sejarah Dies Natalis UI,  kampus bangsa yang sangat disegani tersebut memasukkan Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual sebagai bagian dalam membangun kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM).

Pada acara Dies Natalis UI ke-56 tingkat FKUI, Rektor UI, Prof Usman Chatib Warsa mengajak seluruh civitas akademika UI agar menjadikan UI sebagai World Class University tahun 2010.  Untuk mencapai misi itu, salah satu caranya, adalah dengan meningkatkan kualitas SDM seperti tercermin pada tema acara, “Kompetensi SDM FKUI menghadapi World Class University 2010”.  Sebagaimana harapan Rektor UI, adalah SDM yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi dan diimbangi dengan kecerdasan emosional dan spiritual yang juga tinggi sehingga akan tercipta SDM dengan kompetensi intelektual, yang dilandasi dengan kompetensi moral dan spiritual.

Selain Rektor UI, tampak hadir Prof dr  Sujudi (Mantan Menteri Kesehatan dan mantan Rektor UI), Prof  Dr  Satryo Soemantri Brodjonegoro (Dirjen Pendidikan Tinggi), Prof dr Akmal Taher, Sp U (Dirut RSCM), dr Menaldi Rasmin, Sp (K) FCCP (Dekan FK UI), Ketua Departemen  Ilmu Penyakit Dalam FK UI, Dr H A  Aziz Rani SpPD – KGEH, Ketua ILUNI UI,   Wakil Dekan I dan II FKUI serta para Guru Besar.

Dekan FKUI menyatakan visinya, yaitu mewujudkan FKUI menjadi salah satu fakultas kedokteran terkemuka di wilayah Asia Pasifik, yang berbudaya. Diharapkan, dokter lulusan FKUI masa depan akan mempunyai kualifikasi “The Five Stars Doctor”, yaitu  care giver, decision maker, communicator, community leader, dan  manager. Karena itulah, SDM adalah penentu terpenting.

Dalam kesempatan itu, Ary Ginanjar memperkenalkan ESQ sebagai metode untuk memperkuat unsur SDM dalam mencapai visi dan misi FKUI, karena ternyata IQ hanya berpengaruh 6% – 20% dalam mencapai kesuksesan menurut Carnagie Melon University, Albert Edward Wiggam dan hasil survey EQ Inventory yang didirikan Reuven Bar On.

Pada akhirnya SDM-lah memiliki posisi penting, karena manusialah yang menjalankan semua sistem dan program untuk mencapai World Class University. Dibutuhkan 3 jenis komitmen untuk mencapainya, yaitu komitmen intelektual, komitmen emosional, dan komitmen  spiritual. Contohnya Sumpah Dokter, dalam kaca mata ESQ, adalah sebuah komitmen spiritual yang harus dipegang teguh para dokter dalam menjalankan tugasnya karena diawali dengan pernyataan “Demi Allah saya bersumpah bahwa…”. Di samping itu, di dalam Sumpah Dokter mengandung 7 Nilai Dasar Spiritualitas (Spiritual Core Values) yaitu:  tanggung jawab, jujur dan terpercaya, rahasia, teguh, kasih sayang, peduli, independen,  terima kasih, dan kerja sama.

Jika ditelaah lebih dalam, nilai-nilai  tersebut sesungguhnya cermin dari eksistensi sifat-sifat mulia Tuhan, yaitu Asmaul Husna. Inilah bukti bahwa Sumpah Dokter adalah bentuk sujudnya manusia kepada Tuhan. “Hanya kepada Allahlah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari”  (QS 13:15).

Kemudian Ary Ginanjar bertanya kepada hadirin, manakah yang lebih dahulu, komitmen spiritual atau  komitmen fisik atau intelektual? Berdasarkan Piramida Kebutuhan Abraham Maslow yang selama ini dianut, maka kebutuhan fisik (Basic Need) menempati urutan pertama, kemudian diikuti  Safety Need, Social Need, Self Esteem, dan  Self Actualization. Sehingga yang terjadi saat  ini adalah manusia yang tidak pernah puas dengan segala kebutuhan dasarnya yang bersifat relatif dan terus berlomba memperebutkan-nya bahkan dengan menghalalkan segala cara, dan jarang yang berhasil  mencapai tingkat aktualisasi diri. Akibatnya, yang lahir adalah manusia yang kehilangan jati diri spiritualnya (Spiritual Pathology).

Di akhir hayatnya, Abraham Maslow menyatakan bahwa piramida tersebut terbalik. Lalu, bagaimana piramida kebutuhan yang sebenarnya?

Dengan lugas, Tokoh Perubahan 2005 versi Republika tersebut menyatakan, bahwa  urutan kebutuhan manusia sesungguhnya sudah diajarkan Nabi Ibrahim As dalam urutan pelaksanaan ibadah haji,  4500 tahun yang lalu, namun kita tidak pernah memahaminya. Urutan tersebut adalah:

  1. Self-Actualization (aktualisasi diri), yaitu makna yang didapat saat  Wukuf di  Arafah ketika manusia  menyadari   siapa dirinya, dari mana asalnya, dan mau kemana dia. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu dari segumpal darah…(QS 96: 1)).
  2. Self Esteem (Pengakuan Diri), dijawab dengan lontar jumrah ketika manusia harus  melontarkan segala kesombongan dan kebanggaan akan diri yang selama ini justru dikejar.
  3. Social Need (Kebutuhan Sosial) dibangun dengan Thawaf, yaitu masyarakat yang memiliki nilai dan prinsip yang sama yang dilambangkan dengan pakaian Ihram, yang kemudian berputar bersama-sama mengelilingi satu nilai secara harmonis dan damai (Tauhid);
  4. Safety Need (Kebutuhan Rasa Aman), yang dijawab dengan Sa’i, yaitu ketika manusia merasa takut justru harus terus bergerak dan bekerja seperti yang dilakukan Siti Hajar yang terus berlari dari bukit Shafa ke Marwah;
  5. Akhirnya, Basic Need (Kebutuhan Dasar) terpenuhi dengan cara yang baik dan benar. Itulah air zam zam yang penuh berkah, yaitu hasil dari kemenangan fisik (IQ), yang didahului dengan kemenangan mental (EQ) dan spiritual SQ). Inilah jawaban Nabi Ibrahim As atas keresahan Abraham Maslow.

“Dan tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) suatu ilmu, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu (ilmu) yang benar dan paling baik penjelasannya”. (QS 25:33 )

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s