ESQ Disambut Positif Ribuan Orang di Universitas Al-Azhar Kairo


Ribuan orang menghadiri seminar ESQ di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Banyak di antara  mereka tergetar dan tergugah. Mereka ingin mengadakan  training ESQ di negeri piramid tersebut.

Kamis (10/3) lalu, sejarah emas itu akhirnya tercipta ketika Ary Ginanjar Agustian, menjadi pembicara dalam acara “Curhat Publik: Gali Potensi Diri, Raih Kebahagiaan Hakiki”, di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Sekitar 1500 orang memadati ruang pertemuan mendengarkan paparan Penemu ESQ Model tersebut tentang ESQ. Inilah kali pertama Ary Ginanjar diberikan kesempatan menjelaskan ESQ di negara yang menjadi salah satu pusat peradaban dunia tertua itu.

Rio Erismen Armen, Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) mengatakan, kehadiran Ary Ginanjar sudah dinantikan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir. Nama Ary Ginanjar dan ESQ, akunya, sudah dikenal luas oleh mereka sehingga tak heran jika acara tersebut dibanjiri peserta. “Antusiasme mereka luar biasa tinggi. Bahkan banyak di antara mereka yang rela berdiri,”ujarnya. Selain mahasiswa, hadir pula Muzamil Basyuni, Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Kairo, Mesir.

Sementara itu, Ary Ginanjar menjelaskan tentang kondisi di tanah air yang terus dirundung berbagai musibah,  mulai dari gempa dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam akhir 2004, gempa di Nabire  Papua, tanah longsor, banjir, formalin, antraks, demam berdarah dan flu burung. Namun jelasnya, itu semua merupakan pesan dari Allah agar kita kembali kepada-Nya. Betapa tidak, gempa bumi dan tsunami di bumi Serambi Mekkah terjadi pada hari Ahad;  Idul Adha pada hari Ahad; Idul Fitri pada hari Ahad; Isra Mi’raj pada hari Ahad; Gerhana bulan pada hari Ahad; Gerhana matahari pada hari Ahad. “Ini menandakan kita harus kembali kepada Allah yang Ahad,” ungkapnya.

Saat ini, bangsa Indonesia sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya. Salah satu indikasinya adalah dengan semakin maraknya pemberantasan korupsi yang selama ini telah menjadi penyakit yang menggerogoti tubuh negeri tercinta. Jika ini terus dilakukan, maka kebangkitan Indonesia akan menjadi kenyataan. Karenanya,” Ayo, cepat pulang ke tanah air. Indonesia akan menjadi pusat peradaban dunia tahun 2020,” ujar Tokoh Perubahan 2005 versi Republika tersebut dengan penuh semangat.

Hanya saja ia mengingatkan, untuk mencapai visi Indonesia Emas tersebut bukan pekerjaan mudah di tengah masyarakat yang masih menjadikan kecerdasan intelektual (IQ) sebagai parameter kecerdasan seseorang. Padahal, IQ hanya berperan tak lebih dari 6%-20% terhadap kesuksesan seseorang berdasarkan survey dari EQ-I (Emotion Quotient Inventory). “Tapi anehnya, sampai saat ini kita masih menjadikan IQ sebagai ukuran,” tambahnya. Seorang mahasiswa disebut pintar jika Indeks Prestasinya mencapai angka tinggi. Begitu pula dengan siswa yang baru bisa naik kelas jika nilai rapornya di atas rata-rata. Seharusnya, lanjut ikon ESQ tersebut, selain IQ, kita juga harus memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) agar menggapai kesuksesan yang sesungguhnya.

EQ merupakan kecerdasan kedua yang ditemukan oleh Daniel Goleman, di mana dengan kecerdasan tersebut, kita akan memiliki kemampuan merasa, memahami diri sendiri, orang lain, lingkungan serta mengambil keputusan dengan tepat dan cepat dan dalam waktu yang tepat. Hanya saja, IQ dan EQ saja ternyata tidak memadai. Banyak contoh orang-orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain, memikat hati dengan ucapan, peka mencari peluang, serta berotak cemerlang, tapi semua kecakapan tersebut digunakan untuk mencapai ego pribadi atau golongan. “Di samping itu, ternyata orang-orang sukses tersebut merasa kekeringan di tengah kesuksesannya. Ia merasa dikejar-kejar waktu, stres dan merasa kurang dihargai,” tambahnya.

Manusia-manusia seperti ini telah “kehilangan makna” atau menderita spiritual pathology (jiwa yang terbelah). Karenanya, dibutuhkan SQ yang ditemukan tahun 1990-an yang sejatinya telah built in dalam diri manusia. SQ ini pulalah yang menjawab kegelisahan Victor E Frankl. “People have enough to live, but nothing to live for; They have the means, but no meaning…”.

Jika ketiga kecerdasan ini yaitu IQ, EQ dan SQ dikelola dengan baik, maka akan lahir manusia-manusia yang mengetahui untuk apa ia diciptakan; apa tujuan hidupnya; dan hendak ke mana kelak ia pergi. Fungsi IQ adalah “What I think” (apa yang saya pikirkan) untuk mengelola kekayaan fisik atau materi (physical capital); fungsi EQ adalah “What I feel” (apa yang saya rasakan) untuk mengelola kekayaan sosial  (Social Capital); dan fungsi SQ adalah “Who am I“ (siapa saya) untuk mengelola kekayaan spiritual (Spiritual Capital). Inilah makna tertinggi kehidupan (The Ultimate Meaning) yang menjadi tuntutan yang harus dijawab oleh semua manusia seperti halnya usaha Nabi Ibrahim dan Nabi Musa mencari Tuhannya; juga ketika Nabi Muhammad SAW mencari jawaban tentang eksistensi tertinggi di Gua Hira, sebuah gua yang berada di gunung tertinggi di kota Mekkah dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. “Ini adalah sebuah pesan bahwa manusia harus berupaya sungguh-sungguh mencari hakikat tertinggi yaitu menemukan Tuhan Sang Pencipta,” imbuh penulis buku best seller ESQ dan ESQ Power ini.

Materi yang disampaikan  pimpinan ESQ Leadership Center tersebut, aku Rio Erismen, begitu menggetarkan. sehingga membuat banyak mahasiswa Indonesia semakin antusias dengan ESQ. Singkatnya waktu acara yang hanya berlangsung sekitar dua jam membuat mereka ingin lebih jauh mengetahui ESQ. “Pemaparan yang kemarin itu masih  kurang lama, karena hanya sekitar satu setengah jam. Saya  yakin, kalau di Mesir diadakan training yang sempurna,  banyak yang mau ikut,” ujar Elli Nispi Laili, mahaiswa Fakultas Ushuluddin Al Azhar Kairo.Tak heran, jika seuasi acara, banyak yang menginginkan diadakannya training ESQ di Mesir.“Kami akan menjajaki kemungkinan membawa training ESQ di sini,” ujar Rio, saat dihubungi via telepon seluler.

Bukan hanya di Mesir, tanggapan positif juga terlontar dari alumni Al Azhar Kairo, yang sekarang sukses meniti karir di berbagai bidang. Salah satunya adalah Abdul Kasim yang sempat menimba ilmu selama satu setengah tahun di sana. “Kedatangan Pak Ary sangat positif, karena hadir di sebuah kampus yang menjadi kawah candradimuka calon-calon pemimpin bangsa di masa depan,” ujar alumnus ESQ Eksekutif 42 yang sekarang menjadi anggota DPR tersebut.

Setelah hampir seluruh wilayah di Indonesia mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Papua disebarkan nilai-nilai spiritualitas 165, kini ESQ Leadership Center mulai go international. Kehadiran ESQ, dalam hal ini Ary Ginanjar Agustian di Mesir, setelah sebelumnya juga mensosialisaikan ESQ di Den Haag, Belanda, dan akan melakukan training internasional pertama kali di Kuala Lumpur Malaysia, 7-9 April mendatang, semakin memantapkan keyakinan mewujudkan Indonesia Emas 2020. Bahkan, bukan hanya Indonesia Emas, keyakinan Dunia Emas 2050 pun semakin menebal.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s