Lima Tawaran untuk Indonesia


seminar-esqmagz

Dari kiri: Aries Muftie, Agus Mustofa, Deddy Mizwar, Mochtar Pabottingi, Ary Ginanjar Agustian, dan Yudhistira ANM Massardi (Pemred ESQ Magazine)

Rabu pagi, 20 Agustus 2008. Lima pakar di bidangnya: Mochtar Pabottingi (politik), Drajad Wibowo (Ekonomi), Agus Mustofa (Sains) dan Deddy Mizwar (budayawan) dan Ary Ginanjar (SDM) berkumpul di Menara 165, Jakarta Selatan. Mereka didaulat untuk menyampaikan pemikirannya dalam seminar sehari bertajuk: Indonesia Belum Selesai: Mencari kembali Jatidiri.

Seminar yang dipandu oleh Aries Mufti itu, dimulai tepat pukul 09.30. Acara ini merupakan kerjasama ESQ Magazine dan Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Korwil DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Drajad Wibowo tampil sebagai pembicara pertama. Drajad menyatakan bahwa persoalan Indonesia saat ini adalah masalah utang dan ketidakahlian penggarapan sumberdaya alam. Situasi semakin parah saat kedua hal itu berkelindan dengan keserakahan negara-negara maju saat mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia.
“Jika Indonesia ingin bangkit, saya pikir kita harus pandai mengeksplotasi sumber daya alam kita sendiri. Jangan diserahkan ke negara asing,” ujar ekonom yang terkenal kritis itu.

Mochtar Pabottingi sebagai pembicara kedua mengamini pernyataan Drajad. Secara khusus, ia menyebut pendidikan politik rakyat Indonesia yang masih terbelakang menyebabkan reformasi yang baru didapat diserahkan justru kepada orang-orang yang tidak reformis. Ia juga mengecam para elit yang tidak memikirkan soal nation saat bekerja.

“Penguatan politik bangsa yang terbaik adalah kita harus berani kembali kepada nasionalisme dan demokrasi,” kata ahli politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut.

Pembicara ketiga, Agus Mustofa, yang ahli teknologi nuklir, menengarai ada lima hal yang menjadi penyebab kemunduran bangsa. Dua di antaranya karena mayoritas bangsa ini hanya menjalankan ibadah sebagai kegiatan ritual tanpa makna dan tidak bertuhan kepada Allah semata.

Pembicara keempat, Dedy Mizwar menyoroti soal media informasi yang menyuci otak bangsa ini ke arah kepentingan kapitalisme dan hedonisme. Ia juga sangat sedih dengan situasi bangsa ini yang sudah menjadi hamba televisi.

“Budaya membaca dan meneliti seperti yang dianjurkan Al Qur’an, sudah diganti dengan budaya pandangan mata,” kata aktor yang terkenal dengan perannya sebagai Nagabonar tersebut.

Sementara Ary Ginanjar yang tampil sebagai pembicara terakhir mengutip teori pembangunan karakter dari JW Forrester. Menurut Forrester, ada empat tahapan yang harus dilalui untuk membangun. Pertama, membangun nilai. Kedua, koherensi, di mana manusia telah menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai karakternya, yang menyatu dengan pribadinya. Ketiga, otonomi, saat manusia telah berhasil menentukan dirinya sendiri, tak terpoengaruh oleh lingkungan. Ini bisa tercapai ketika manusia telah memiliki nilai dan koherensi. Keempat, ketangguhan. Pada titik ini, manusia telah menjadi pribadi yang kokoh, bermental kuat, berkarakter tangguh.

Teori ini sebangun dengan tahapan ibadah haji: wukuf, thawaf dan sa’i. Wukuf adalah tahapan membangun nilai, ketika manusia telah mengenal jatidiri. Thawaf yaitu ketika nilai spiritual sudah di atas kepentingan lainnya. Saat manusia memiliki mental kuat dan tangguh (karakter). Sedangkan sa’i yakni saat manusia bekerja hanya semata karena Allah.

Di Indonesia, Ary menambahkan, tahapan tersebut tidak dilakukan. “Kita langsung melakukan sa’i, membangun perekonomian,” katanya. “Kita melupakan wukuf dan thawaf.” Akibatnya, “Bangsa ini terpuruk.”
Padahal jika tahapan ibadah haji tersebut dilalui dengan benar, akan lahir kecerdasan spiritual yang tinggi.

Muaranya adalah lahirlah peradaban besar. Maka Indonesia 2020 selanjutnya adalah Air Zamzam yang mengalir. Itulah spiritual jernih, mentalnya teguh, dan sejahtera seperti air zamzam. Hendi Johari, Erwyn Kurniawan

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s