Training ESQ untuk Kadin, Hipmi dan Iwapi


iht-kadin-2

Dari kiri: Ketua Umum Kadin MS Hidayat, Ary Ginanjar Agustian dan Ketua Umum HIPMI Pusat Erwin Aksa

Dalam kesehariannya, pengusaha harus menghadapi pertempuran pikiran dan akal. Kedua instrumen itu menjadi alat utama dalam melakukan usaha. Kedua hal itu harus dilengkapi dengan hati agar seorang pengusaha memiliki nilai-nilai etika dan moral. Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam sambutan pembukaan training ESQ untuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan asosiasi di bawahnya, di Menara 165, Jakarta, Jumat 22 Agustus.

”Hati dan akal ini seringkali tergoda dan training ESQ ini melatih hati. Hati yang diasah akan menjadikan pribadi yang lebih kokoh,” kata Fahmi.

Fahmi memuji upaya ESQ Leadership Centre dan Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ yang menggandeng Kadin Indonesia untuk memberikan pelatihan ESQ kepada para pengurusnya dan anggotanya se-Indonesia.
Sekitar 150 pengusaha mengikuti training yang berlangsung 22-24 Agustus itu. Mereka dari kadin, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Hadir pada pembukaan Ketua Umum Kadin MS Hidayat dan Ketua Umum HIPMI Pusat Erwin Aksa.

MS Hidayat dalam sambutannya mengatakan bahwa kita masih menghadapi masalah untuk mewujudkan bangsa yang kuat, mandiri dan berdaya saing. Agar masalah tersebut dapat teratasi, diperlukan kepemimpinan dalam segala tingkatan dan lapisan. ”Training ESQ akan memberikan bekal kita dalam kepemimpinan yang berlandaskan spiritualitas hingga kita mendapatkan kesadaran siapakah diri kita, dari mana kita berasal dan mau ke mana kita melangkah.”

”Kami berikan penghargaan kepada ESQ Keadership Centre yang bekerjasama dengan kami untuk memberikan pelatiha ESQ,” lanjut Hidayat.

Pimpinan ESQ Leadership Centre Ary Ginanjar mengatakan bahwa lembaganya telah memberikan training ESQ kepada para pejabat negara. Namun terasa tidak sempurna jika para pengusaha tidak mendapatkannya, karena pengusaha juga merupakan ujung tombak perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sayangnya, jumlah pengusaha di Indonesia hanya sekitar 450.000 orang atau 0,18 persen dari total penduduk Indonesia. Ini berbeda jauh dengan Amerika Serikat yang mencapai 11,5 persen dan Singapura yang sebanyak 7,2 persen. Tak heran, dengan persentase itu, kedua negara tersebut mengalami kemajuan.

Indonesia bisa bangkit, kata Ary, jika jumlah pengusaha terus bertambah dan menjadikan spiritualitas sebagai landasan. Ary mengutip hasil survei yang dilakukan Guy Hendricks dan Keith Ludeman yang menyimpulkan bahwa spiritualitas yang dimiliki para pimpinan perusahaan kelas dunialah yang menyebabkan keberhasilan usahanya.

Karena itu, Ary mengajak para pengusaha untuk menjadikan nilai-nilai spiritualitas seperti seperti jujur, disiplin, tanggungjawab sebagai pegangan. Jika spiritualitas ditinggalkan para pelaku bisnis, maka nasibnya akan sama dengan Enron dan Worldcom. Kedua perusahaan kelas dunia itu ambruk karena meninggalkan spiritualitas.

Untuk menjadi pengusaha yang spiritualis, ujar Ary, kunci keberhasilan adalah self mastery, yang intinya pengendalian diri. ”Dengan training ESQ inilah, para pengusaha akan dilatih Self Mastery-nya, sehingga bisa mengendalikan diri.” Jika ini terwujud, kata Ary, akan lahir pengusaha di Tanah Air yang menjadikan 7 Budi Utama (Jujur, Tanggungjawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, Peduli) sebagai landasan dalam kegiatan usahanya. ”Ini akan mendukung lahirnya Good Corporate Governance,” kata Ary lagi. Erwyn Kurniawan


Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s