ESQ Setelah 7 Tahun: Apa Kata Ulama, Akademisi dan Tokoh Nasional? (Bagian 2)


Lebih dari 600.000 orang telah mengikuti training ESQ. Mereka berasal dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Papua. Termasuk dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat.

Alumni ESQ memiliki latar belakang beragam: pejabat tinggi negara, ibu rumah tangga, anak-anak, karyawan biasa, hingga para pimpinan perusahaan, dan guru. Untuk guru, jumlah alumninya telah mencapai lebih dari 70.000 orang. Para guru itu mengikuti training ESQ secara gratis.

Berbagai perusahaan papan atas telah mengikuti training ESQ. Ada Petronas dan Sime Darby dari Malaysia, Pertamina, PT Telkom, dan lainnya. Dari lem­baga akademis ada Universitas Indo­nesia (UI), Institut Teknologi Se­puluh November Surabaya (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bo­gor (IPB). Dari lembaga peme­rintahan ada Kementerian Ne­gara Pemberdayaan Aparatur Ne­ga­ra, Sekretariat Negara, dan sebagainya.

Berikut ini kami rangkum berbagai komentar alumni ESQ. Mulai dari ulama kondang, pimpinan lembaga strategis, dan rektor universitas papan atas di Indonesia.
Prof Muladi, Gubernur Lemhannas
ESQ penting sekali bagi bang­sa karena mengajarkan ke­pada kita bahwa hidup itu bukan untuk ke­pentingan pri­badi, tapi lebih luas dari itu: untuk kepentingan bangsa dan negara. ESQ itu ada­lah bagian dari kepemimpinan. Spiritualitas yang diajarkan ESQ itu penting. Spiritualitas itu mulai dari ke­yakinan kita kepada Tuhan, sam­pai kejujuran. Kami ingin, pemimpin bangsa ini jujur. Nah, karena kami mengajarkan tentang kepemimpinan nasional, maka saya minta Ary Ginanjar untuk menyampaikan apa itu ESQ di Lemhannas. Masalah spiritual sangat penting bagi pemimpin-pemimpin kita saat ini, yakni ke­terikatan pada budaya bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, negara kesatuan, Bhinneka Tunggal Ika.

KH Didin Hafiduddin
Perubahan tak pernah ter­jadi melalui jum­lah kelompok yang banyak. Pe­rubahan terjadi melalui kelompok yang sedikit tapi konsis­ten. Kita berharap, semoga ada jalan-jalan yang kita pikirkan ber­sama bagaimana konsistensi ini kita bangun bersama, dengan kegiatan setelah training ESQ. Saya hanya bisa berdoa dan ber­harap mudah-mudahan Pak Ary dan teman-teman ESQ dan kita se­mua yang mengikutinya akan masuk dalam sebuah doa dari Umar Bin Khattab: ”Ya Allah, ja­dikan kami dalam kelompok yang sedikit.” Bukankah dalam Al-Quran dijelaskan bahwa amat sedikit hamba-hambaNya yang ber­syukur. Semoga kita masuk ke dalam golongan yang bersyukur, yang sedikit jumlahnya tapi me­warnai yang lain.

Mohammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informasi
Training ESQ ini bertujuan un­tuk mengisi ruang-ruang yang kosong yang terdapat pada diri kita. Ruang kosong itu adalah spiritualitas. Manusia harus beru­saha menyem­purnakan dirinya masing-ma­sing. Manusia itu me­rupakan makhluk multidimensi yang harus menangkap berbagai fenomena yang juga multidimensi. Ketika dimensi yang kita miliki komplet, maka kita akan mampu merespon fenomena yang ada de­ngan tepat. Persoalannya, saat ini, fenomena yang ada jauh lebih banyak diban­dingkan dengan kemampuan yang dimiliki manusia. Akibatnya, so­lusi meng­hadapi fenomena yang ter­ja­di ti­dak sempurna. Training ESQ bisa menjadi salah satu so­lusinya karena akan membawa ki­ta mampu memadukan antara intelektual, emosional dan spiritualitas.

Gumilar Rusliwa Sumantri, PhD, Rektor UI
ESQ mengajarkan kita untuk mengintegrasikan kecerdasan inte­lektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Metode dan materinya diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM yang dimilki UI. Training ESQ juga bisa menjadi alternatif menggantikan sistem orientasi bagi mahasiswa baru.

Prof Ir Priyo Suprobo, MS, Ph.D, Rektor ITS
Kami tidak ingin mendidik ma­hasiswa hanya cerdas intelek­tual saja, tetapi juga cerdas se­cara spiritual dan cerdas emo­sional. Itulah mengapa kami me­laksanakan in house training ESQ di ITS untuk mahasiswa ba­ru. Dengan pelatihan ini, kami berharap mereka akan punya be­kal kecerdasan emosional dan spiritual, selain juga intelektual.

Setelah training ESQ, maha­siswa ITS menjadi tahu siapa di­rinya sebenarnya, tahu tujuan hi­dup­nya untuk apa, lebih tahu lagi yaitu dalam hal mengenal Allah SWT sebagai penciptanya dan alam semesta. Setelah mengetahui ketiga hal itu, mahasiswa baru di­harapkan tahu tujuannya berkuliah di ITS, tidak hanya semata-mata untuk mendapatkan gelar sarjana tetapi berkuliah untuk mengabdi kepada Tuhan, sehingga akan le­bih semangat dalam menjalani per­kuliahan nantinya.

Irjen Pol. Drs Dwi Purwanto, Kepala Sespim Polri
Kami membutuhkan ESQ kare­na bisa memberikan kesadaran atau pemahaman bahwa tugas, pang­kat atau jabatan merupakan amanah dari Allah. Jika ini disa­dari, maka semua pasti akan be­kerja dengan baik. Mereka akan mengemban amanah karena jika tidak melakukan dengan baik, yang sengsara adalah anak buah dan rakyat. Tugas pemimpin itu melayani anak buah dan rakyat. Kita tahu, tugas Polri itu paling di­harapkan rakyat. Menjaga kea­manan, melindungi dan meng­ayomi masyarakat dengan baik. Tugas kami sangat berat. Makanya, jika tidak cerdas emosi dan spiritual, kita akan menyakiti rakyat. Apa yang diajarkan ESQ bersifat universal, meski banyak menggunakan ajaran Islam. Saya minta masukan dari berbagai pi­hak, dan mereka mengatakan yang terbaik saat ini ya ESQ. ESQ patut menjadi kurikulum di Sespim.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s