Komitmen Spiritual Ala Bonto-bonto


daeng-coangDi malam yang dingin itu, di puncak gunung Monroolo, Daeng Coang begitu sumringah. Pasalnya, baru saja ia mendapat kabar bagus dari temannya di kota Maros, yakni akan dilaksanakannya Temu Alumni ESQ berskala internasional di kota Makassar , Sulsel.

Jelas kabar itu bukan berita biasa baginya. Bagaimana tidak, ESQ bagi Coang adalah teman sehati. Menurutnya, ESQ adalah pelita di dalam terowongan gelap. “ESQ itu luar biasa. Cara pandang saya dalam menjalani hidup berubah total. Terang saja, saya tak akan bisa tidur lelap kalau tidak menyaksikan perhelatan besar itu,” kata pria kelahiran Bonto-bonto, Tompobulu, Kabupaten Maros, 1 Juli 1964 itu.

Yang menjadi persoalan adalah tempat tinggalnya yang sangat susah dijangkau. Untuk menuju kota Makassar , ia harus berjuang keras dan berpeluh keringat. Jalan setapak yang berbatu, sejauh 30 kilometer, melintasi tiga gunung, harus ia lalui dengan berjalan kaki. Lalu, ia juga harus naik ojek selama tiga jam menuju kota Maros dengan ongkos yang lumayan mahal.

Namun, karena komitmen yang tinggi, ia melupakan segala kesulitan tersebut. Rabu pagi, dua hari menjelang perhelatan akbar itu, ia pun bergegas. Semua perbekalan di jalan ia siapkan. Seperti, minuman, makanan dan baju ganti. Dan perjalanan panjang nan melelahkan pun dimulai.

Jalan setapak yang menanjak dan menurun itu pun ia lewati dengan lapang dada. Di tengah perjalanan, sendal jepit hitam yang ia pakai, hampir saja putus, sebab seringkali kakinya terbentur bongkahan batu dan ranting-ranting pohon yang teronggok di jalanan. “Sendal putus sudah biasa. Kadang-kadang saya tanpa alas,” kata ayah empat anak yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan pembuat nira itu.

Pukul dua siang, di tengah terik matahari yang panas, akhirnya Coang menyelesaikan satu tahap perjalanannya. Ia sudah tiba di Kecamatan Tompobulu. Kaos oblong berwarna hitam yang ia pakai basah kuyup oleh keringat. Ia mampir sebentar di sebuah mesjid untuk sholat dan ganti baju.

Tak berapa lama, ia kembali berjalan menuju pangkalan ojek. Di sana beberapa tukang ojek sudah menanti kedatangannya. Dengan mengeluarkan uang sebanyak 75 ribu rupiah, dan menghabiskan waktu selama dua setengah jam, Coang akhirnya tiba di kota Maros pada pukul lima sore. “Di Maros, saya menginap di rumah saudara satu malam. Besoknya saya menuju kota Makassar . Iyaa kira-kira satu jam perjalanan lagi lah,” kata alumnus ESQ In-House Pemkab Maros itu.

Jumat malam, 21 November 2008, ia berbaur dengan ribuan alumni yang datang dari seantero negeri. Ia ikut berkomitmen untuk membantu perjuangan alumnus ESQ dalam mewujudkan satu cita-cita; Indonesia Emas. HANAFI HARRIS PUTRA HASIBUAN

2 comments

  1. Jadi terharu kalo ngeliat cinta yg begitu tulus dan keyakinan yang begitu kuat dari orang2 seperti beliau…
    Semoga Allah melimpahkan kasih sayangNya pada beliau, dan alumni2 lain…

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s