Ekspedisi Tujuh Budi Utama di Selat Malaka


Ary Ginanjar bersama Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Najib Tun Razak dan Dato’ Mukhriz Tun Mahathir, putra Dr. Mahathir Mohamad, pada Malam Perpaduan Nusantara di Dewan Perdana Felda, Kuala Lumpur

Ary Ginanjar bersama Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Seri Najib Tun Razak dan Dato’ Mukhriz Tun Mahathir, putra Dr. Mahathir Mohamad, pada Malam Perpaduan Nusantara di Dewan Perdana Felda, Kuala Lumpur

Sekitar seribu orang meramaikan Malam Perpaduan Nusantara pada 3 Desember lalu. Ini bukan sebuah acara yang digelar di Jakarta atau tempat lain di Indonesia, melainkan di Gedung Dewan Perdana Felda, Kuala Lumpur, Malaysia. Hadir di sana Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak beserta istri, Rosmah Mansor. Ada Menteri Pembangunan Usahawan dan Koperasi Dato Noh Haji Omar. Ada pula Dato’ Mukhriz Mahathir, putra mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahathir Mohamad. Namun, pusat perhatian pada acara meriah itu sesungguhnya adalah tiga orang belia: kakak-beradik Zahra Ma’soumah (17 tahun) dan Salman Ali Shariati Abdul Halim (12 tahun), serta Muhammad Muqharabbin Mokhtaruddin (26 tahun). Yang disebut terakhir itu pernah mencapai Mount Everest, Himalaya.

Acara itu dimaksudkan sebagai malam penggalangan dana untuk sebuah aksi yang dinamai “Projek Ekspedisi Ekstrem 7 Benua 7 Nilai Fasa III.” Mereka bertiga akan berenang menyeberangi Selat Malaka sejauh 45 kilometer, dari Pulau Rapat, Riau, ke Port Dickson, Malaysia, pada 30 Desember nanti. Ekspedisi itu direncanakan berlanjut dengan penyeberangan Selat Inggris pada tahun depan. 

Najib Tun Razak mengatakan kesungguhan mereka patut menjadi contoh, terutama berkenaan dengan kiris moral yang saat ini melanda kalangan muda. Krisis moral itu, menurut dia, berpuncak pada kelemahan mental, karena tidak tertanamnya kekuatan spiritual dan emosional. “Kekuatan material dan juga kekuatan fisik tidak mampu menentukan sukses seseorang, sekiranya tidak disertai kekuatan emosi dan spiritual yang mantap,” katanya.

Menurut Najib, jika kedua kekuatan itu, emosi dan spiritual, diterapkan dalam diri seseorang, maka segala sikap negatif akan bisa berubah menjadi positif. “Semua cita-cita bisa menjadi kenyataan sekiranya kita mempunyai keyakinan diri dan ketakwaan kepada Allah. Perasaan takut juga bisa berubah menjadi berani.”

Ketiga perenang yang akan menyeberangi Selat Malaka itu adalah alumni ESQ. Karenanya, pimpinan ESQ Leadership Center Ary Ginanjar Agustian memberi perhatian besar pada ekspedisi ini. Di tengah kesibukannya, Ary menyempatkan diri untuk hadir pada acara peresmian ekspedisi dan sekaligus penggalangan dana tersebut. Selain Ary, tokoh Indonesia lainnya yang hadir adalah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) AM Fatwa dan Staf Ahli Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga Prof. Dr. Djohar Arifin.

Dalam sambutannya, Ary mengatakan apa yang dilakukan Salman, seorang anak berusia 12 tahun, menyeberangi Selat Malaka, bukanlah bukti kekuatan fisik semata. “Ada kekuatan mentalitas, yakni keteguhan, tanggungjawab, disiplin, yang harus dimiliki,” katanya.

Itu pun, menurut Ary, belum cukup, karena Salman tidak berenang untuk mendapatkan piagam, uang dan ketenaran. “Ia bersama Muqharabbin dan Zahra melakukan ini karena kekuatan spiritual, kekuatan karena kecintaan kepada Allah.”

Dengan melakukan ekspedisi itu, lanjut Ary, mereka akan menyebarkan dengan langkah nyata Tujuh Budi Utama, yakni Jujur, Tanggungjawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil dan Peduli, serta nilai-nilai 165. “Itulah mengapa ESQ Leadership Center terpanggil untuk mendukung ekspedisi ini. Apalagi ketiganya adalah alumni ESQ.”

Selain menyebarkan Tujuh Budi Utama, kata Ary, ekspedisi Salman-Zahra-Muqharabbin memberikan pesan yang kuat tentang persaudaraan. “Walau kita dipisahkan oleh batas negara, kesamaan dalam kecintaan kepada Allah merupakan semangat yang dimiliki kedua bangsa serumpun.”
Tentang hal itu, AM Fatwa menggarisbawahi peran ESQ dalam mempererat hubungan kedua bangsa. Walau pada tingkat negara seringkali terjadi hubungan yang naik dan turun, kata Fatwa, apa yang dilakukan ESQ, baik melalui trainingnya yang saat ini telah memiliki 20.000 alumni di Malaysia, maupun kedatangannya pada acara tersebut, adalah bentuk dukungan dalam memadukan kedua bangsa serumpun. ”Inilah yang akan terus memupuk dan memelihara hubungan kedua bangsa,” katanya.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s