Semangat Pembebasan 1 Muharram


Meski penyebaran informasinya tidak terlalu gencar, acara “The Spirit of Hijriyah” yang dimotori kalangan muda alumni ESQ berlangsung meriah. Sekitar 2.000 alumni ESQ berduyun-duyun mendatangi Menara 165 pada Minggu malam 28 Desember 2008. Ruang Andalusia yang berkapasitas 1.000 orang penuh sesak, sehingga panitia terpaksa menggelar berlembar-lembar karpet di luar ruangan untuk menampung alumni yang membludak.

Acara menyambut Tahun Baru 1 Muharram 1430 H itu antara lain disertai penandatanganan ikrar bersama Gerakan Pemuda 165 (Gema), Fosma, Shot dan Forum Komunikasi Alumni (FKA) untuk mewujudkan Indonesia Emas 2020 dan membangun Menara 165. Pada kesempatan itu, pemimpin ESQ Leadership Center Ary Ginanjar Agustian menyanangkan aksi kepedulian bersama untuk membangun Menara 165 hingga tuntas.

Aksi itu ditandai dengan pemakaian gelang karet oleh setiap donatur yang mewakafkan dana melalui Yayasan Wakaf Menara 165, yang merupakan salah satu entitas pemegang saham PT Grha 165. Ary berharap, melalui aksi itu, dana pembangunan Menara 165 tercukupi pada 2009, dan Yayasan Wakaf Menara 165 menjadi pemegang saham mayoritas.

Sebagai wujud komitmen, setiap donatur mengenakan gelang karet dengan pilihan warna sesuai dengan nilai wakaf yang mereka transfer setiap bulan ke rekening Yayasan Wakaf Menara 165. Warna kuning untuk nilai Rp. 100.000, biru Rp. 50.000 dan hijau Rp. 25.000. “Saya mengajak setiap alumni berpartisipasi dalam gerakan ini sesuai dengan kemampuan masing-masing, dan tidak akan melepas gelang karet hingga Menara 165 tegak berdiri,” kata Ary.

Dalam tausiahnya, Ary Ginanjar menguraikan makna hijrah bagi umat Islam di masa kini. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Muharram lebih luas maknanya dari sekadar hijrah. “Orang menyangka, Muharram itu hanya hijrah Rasulullah. Banyak fenomena besar yang terjadi di Muharram,” kata Ary.

Pertama, Ary mengisahkan, puncak tekanan yang dihadapi Rasulullah saw terjadi di awal Muharram, yaitu saat boikot tiga tahun mencapai tingkat yang tak hanya menyengsarakan Rasulullah dan para sahabatnya, tapi juga membuat kaum kafir Quraisy putus-asa. Berakhirnya boikot itu terjadi pada bulan Muharram.

Sama dengan peristiwa hijrah Rasulullah ke Yathrib, peristiwa itu merupakan pembebasan bagi Nabi dan para sahabatnya dari penderitaan. Jauh sebelum itu, Nabi Musa as bersama kaumnya menyeberangi Laut Merah juga terjadi pada bulan Muharram. Nabi Ibrahim as terbebas dari panasnya api, terjadi pada bulan Muharram. Nabi Ya’qub yang buta lalu bisa melihat, itu juga bulan Muharram. Nabi Yusuf terangkat dari sumur juga pada 1 Muharram. “Karena itu, selain makna hijrah, 1 Muharram sesungguhnya bermakna pembebasan dan kemenangan,” kata Ary.

Dengan semangat pembebasan itu, Ary mengajak para alumni untuk membebaskan proyek pembangunan Menara 165 dari segala macam hambatan. Sehingga, pembangunan gedung yang menjadi perlambang kebangkitan moral bangsa Indonesia itu benar-benar tuntas.

Acara “The Spirit of Hijriyah” dimeriahkan oleh penampilan grup nasyid Snada dan Zero. Hadirin yang mayoritas mengenakan pakaian serba putih, terpukau ketika Fahri, putra dari salah satu personel Snada, Ikhsan Nurrohman, tampil membawakan dua lagu dengan biolanya. Yanto Musthofa


One comment

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s