Gerbong Regenerasi ESQ Bergerak Cepat


ksatria esq

Suasana haru menyergap seisi ruangan Rapat Kerja Tahunan ESQ Leadership Center (ESQ LC) di pusat pelatihan trainer di Cisarua, Bogor, pada Senin malam, 5 Januari. Pemimpin ESQ LC Ary Ginanjar tak kuasa menahan airmatanya, saat mengumumkan keputusan mengirimkan salah satu kader terbaiknya, Legisan Sugimin, ke Malaysia.

“Saya menyayangi kamu, Legisan, tapi kamu harus pergi untuk meneruskan misi menyebarkan 165,” kata Ary menahan isak. ”Kamu di sini sangat membantu saya, tapi saya rela melepasmu.”

Legisan, salah satu dari beberapa trainer senior yang sudah berkali-kali membantu Ary memandu kelas Eksekutif, mendapat amanat memimpin ESQ LC Malaysia. Jabatan Independent Trainer Head yang ditinggalkannya diisi kader senior lain, Abdul Jabir Uksim. Jabatan itu membawahkan 65 trainer yang telah memiliki serangkaian keterampilan khusus, termasuk pemasaran.

Pengutusan Legisan dan promosi Abdul Jabir menandai bergerak cepatnya gerbong regenerasi ESQ LC, lembaga pelatihan sumberdaya manusia yang telah memasuki usia ke-8. Selain mereka, beberapa trainer dan asisten menunjukkan kinerja luar biasa, dan karena itu mendapat percepatan promosi.

Seperti biasa, pengukuhan promosi para trainer dilaksanakan melalui program yang dinamakan Training of Trainer (TOT), dan raker tahunan kali ini bertepatan dengan TOT ke-16. TOT merupakan puncak dari rangkaian evaluasi dan penilaian atas kinerja serta dedikasi para trainer. Untuk mencapai jenjang tertentu, mereka harus melalui berbagai pembelajaran, ujian dan pelatihan dengan disiplin sangat ketat.

Kepala Divisi Kaderisasi Trainer ESQ, Ridwan Mukri, mengungkapkan, seorang calon trainer mula-mula harus menghadapi interviu awal. Di sini calon diukur kemampuannya menyampaikan materi presentasi, wawasan pengetahuan umum, motivasi, dan lain-lain. Selanjutnya, mereka harus lolos psikotes, lalu mengikuti interviu kedua, sebelum bisa mengikuti pendidikan dasar selama sebulan.

Jika rangkaian tahap penyaringan itu bisa dilalui, calon trainer memulai tugas menjadi penyelenggara training atau event organizer (EO), lalu menjadi asisten trainer, baru kemudian trainer. Menurut Ridwan, normalnya, seorang trainer menempuh proses itu selama 9 bulan, yakni tiga bulan EO, tiga bulan asisten trainer, dan tiga bulan pelatihan khusus menjadi trainer.

Proporsi aspek evaluasi meliputi 40 persen mentalitas (attitude), 30 persen kemampuan teknis, dan 30 persen kemampuan sebagai independent trainer. Paramater yang digunakan dalam evaluasi lisan maupun tertulis itu adalah Tujuh Budi Utama ESQ, 13 ESQ Beliefs, Kegiatan Belajar Mandiri (KBM), kualitas training, dan kemampuan-kemampuan khusus seperti marketing.

Saat ini, ungkap Ridwan, ada 87 trainer yang memandu 100-an training yang diadakan ESQ setiap bulan, 13 di antaranya bertugas di Malaysia. Dari jumlah itu, yang sudah berstatus independent trainer 65 orang, dan sisanya asisten. ”Insya Allah, pada akhir 2009 semuanya sudah berstatus independent trainer,” kata Ridwan.

Mengingat pentingnya ketangguhan fisik para trainer, yang harus berdiri dan berbicara selama 8 hingga 10 jam sehari selama tiga hari saat memandu training, ESQ menggabungkan TOT dengan olahraga beladiri karate. Ary sendiri adalah mantan juara karate tingkat nasional.

Karate lebih ditujukan pada penempaan ketahanan fisik. Namun, nilai-nilai keksatriaan yang diajarkan dalam olahraga itu juga ditanamkan pada para trainer. Kenaikan jenjang para trainer pun ditandai dengan penyematan sabuk sesuai dengan level masing-masing, dari sabuk putih, kuning, hijau, biru muda, biru tua, cokelat sampai hitam.

Untuk menopang kerja para trainer itu, ESQ LC mempekerjakan tak kurang dari 400 staf di berbagai bidang manajemen. Dalam raker tahunan barusan, Ary antara lain mengingatkan bahwa 2009 merupakan tahun yang penuh tantangan karena lesunya perekonomian dunia maupun domestik. Namun, dengan keyakinan dan kerja keras segenap “Ksatria 165” –sebutan untuk seluruh karyawan ESQ— Ary yakin tantangan itu bisa diatasi.

Menurut Ary, salah satu hal yang sepatutnya menguatkan semangat para Ksatria 165 adalah telah berfungsinya Menara 165. Gedung yang sahamnya dimiliki para alumni itu merupakan monumen kebangkitan moral bangsa. Gedung itu menjadi pusat kegiatan training ESQ, di samping bermacam-macam kegiatan alumni, seperti seminar, kegiatan kepedulian sosial, sampai konser musik.

Ary mengajak seluruh karyawan untuk giat mengabarkan kepada para alumni di mana pun mereka berada bahwa Menara 165 sudah bisa dinikmati alumni. Salah satu ruang utamanya, yaitu Granada Ballroom, yang cukup untuk menampung 1.200 peserta training, dilengkapi balkon khusus untuk para alumni.

Di balkon yang nyaman itu, para alumni bisa mengikuti kembali training secara gratis, menyegarkan kembali pengetahuan mereka akan materi-materi training. Mereka sekaligus bisa mempererat tali silaturahim dengan sesama alumni dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri.

”Insya Allah, Menara 165 ini adalah menara pertama, dan kelak akan berdiri menara-menara lain di berbagai daerah,” kata Ary merujuk ke penyebaran alumni yang kini mencapai lebih dari 600.000 orang. YANTO MUSTOFA (ymusthofa_165@yahoo.com)

One comment

  1. pagi!!!!!

    subhanallah… semoga para trainer selalu dilindungi dan dirahmati Allah SWT….. aminn..

    hanya bisa mendo’akan….

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s