Cahaya diatas Cahaya


Foto: lienaaifen.com

Perhatikan bagaimana sebuah lampu pelita menyala. Ia perlu sebuah kaca pelindung supaya tidak tertiup angin agar api kecilnya tetap menyala. Ia selalu minta diisi minyak oleh orang lain sebagai sumber bahan bakarnya.

Inilah gambaran orang baik yang memberi manfaat cahaya kepada sekitar, akan tetapi ia sesungguhnya lemah. Ia selalu memerlukan orang lain yang melindunginya. Ia selalu memerlukan minyak pujian, penghargaan, pengakuan, belas kasihan, dan perhatian orang lain. Ketika tidak ada minyak itu maka lampu pelitanya padam.

Akan tetapi cahaya yang abadi adalah apabila minyaknya bukan dari Timur atau dari Barat, akan tetapi ia menyala dengan sendirinya. Karena sumber cahayanya bersumber dari Cahaya diatas Cahaya.

Itulah perbedaan antara orang yang berbuat baik tapi bergantung kepada manusia, dan orang yang berbuat baik tetapi bergantung pada Allah. Kita termasuk yang mana?

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah misykat, yang di dalamnya ada pelita.
Pelita itu di dalam kaca, kaca itu bagaikan sebuah bintang yang bercahaya seperti mutiara,
yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi.
Yaitu pohon zaitun yang bukan dari timur atau dari barat,
yang minyaknya menyala walaupun tidak disentuh api.
Cahaya diatas cahaya,
Allah membimbing kepada cahaya-Nya bagi siapa yang dikehendaki.
Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia,
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Annur: 35)

2 comments

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s