Merasa Cukup


Foto: soekarnosan.wordpress.com

Tak mudah menjadi orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah. Menjadi orang yang selalu berusaha memberi, tak pernah mengharap belas kasihan sesama, apalagi menengadahkan tangan untuk meminta.

Sungguh, tak terjangkau dengan akal, kemuliaan orang-orang yang senantiasa menggadaikan kehidupan mereka dengan keridhaan Tuhannya. Mereka tak berharta tetapi tak pernah mengiba. Mereka tak bisa mengejar dunia tetapi memelihara diri dari meminta-minta.

Mereka laksana orang-orang kaya yang senantiasa membuka pintu bagi kaum papa dengan senyumnya. Meski yang tersisa kemudian hanyalah sekadar pelepas dahaga.

Merekalah orang-orang yang menggantungkan harapan hanya pada Tuhannya. Yang tak pernah menganiaya hamba-Nya. Yang senantiasa membuka pintu-pintu rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Yang juga memerintahkan pada hamba-hamba-Nya yang berniaga untuk menginfaqkan sebagian hartanya pada mereka.

Salam 165,

Ary Ginanjar Agustian

4 comments

  1. Jawaban atas kegalauan jiwa yang menderita karena haus akan harta tahta dan kerajaan keluarga sudahlah terjawab. Mengapa kecenderungan nafsu ini tiada kian jua surut. Diri sadar akan derasnya arus kesana , mengapa pula membiarkan awak berhanyut hanyut kesana , jika tanpa kehendak Mu maka pasti semakin jauh deras arus membawa hamba.

  2. Merekalah orang-orang yang menggantungkan harapan hanya pada Tuhannya.
    > Syukurlah

    Yang tak pernah menganiaya hamba-Nya.
    > Termasuk tidak mengacuhkan dan melepaskan taut silaturahmi. (Kebanyakan hal yang ini yang suka dilupakan orang masa kini)

    Yang senantiasa membuka pintu-pintu rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
    > Syukur alhamdullillah!

    Yang juga “memerintahkan” pada hamba-hamba-Nya yang berniaga untuk menginfaqkan sebagian hartanya pada “mereka”.
    > Ini kok sering ya disebut begini … kok “memerintahkan” sih? Dengan sesama umat dimana pada hakekatnya sesama itu hak kemanusiaannya sama, apa baiknya sih merintah-merintah gitu,… mengapa tidak usahakan taut silaturahmi yang amat MEYAKINKAN bagi adanya kesadaran terhadap kebersamaan umat secara manusiawi dan beradab? Lagian kalo pintu rezeki telah dibuka “cukup” oleh Allah swt, mengapa masih perlu memberi perintah2 bagi keberuntungan mereka? Aneh rasanya.

    Mungkin mengartikannya ke dalam Bahasa Indonesianya yang masih perlu dikaji lebih mendalam.. Nanti coba dicari dulu pasalnya dalam Al-Quran.

    Salam.

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s