Ada yang Hilang


Masjid Mirasuddeen Bangkok, Thailand

Setelah seminar di Bangkok kemarin saya shalat maghrib, yang menjadi Imam adalah orang Thailand, wajahnya mirip-mirip seperti Pak Udin atau Pak Amir di Indonesia, tidak ada bedanya. Bacaaannya juga faseh.
Itulah Bangkok, kota yang selalu dikonotasikan Pusat “Dugem” ini ternyata memiliki 200 masjid, dan 4000 masjid lainnya di seluruh Thailand, 10% penduduknya beragama Islam. Artinya 6.000.000 orang Thailand adalah muslim.

Masyarakatnya ternyata rendah hati, apabila bertemu tamu selalu menghormat, merundukkan wajahnya dan kedua tangan dirapatkan di dada seraya berkata, “Sawasdee Kuurp”, artinya Selamat pagi, atau Selamat siang, atau Selamat malam, semua sama, salam borongan yang praktis.

Menurut para diplomat Indonesia yang sudah tinggal bertahun-tahun di Negeri Gajah Putih ini, orang Thailand umumnya jujur-jujur, mirip seperti orang Jepang, dan sangat menghormati tamu. Pegawai pemerintahnya tidak suka “pungli” (rasuah), sehingga investor asing seperti Jepang dan lain-lain suka membangun bisnisnya besar-besaran di sini. Di samping tempatnya memang aman.

Ketika saya pelajari apa penyebab rakyatnya memilki sifat jujur, rendah hati, baik, dan mudah diatur, ternyata karena mereka hormat dan takut kepada Rajanya, yang dalam keyakinan mereka bahwa Raja adalah manusia keturunan Dewa. Setiap jam 8.00 mereka menyanyikan lagu Kebangsaan tentang Raja dan Negara semua hormat, juga orang yang sedang berjalan kakipun akan berhenti, kalau melanggar maka Anda akan dicemberuti ribuan orang.

Mereka yakin sekali bahwa kalau mereka korupsi, pungli atau berbohong maka kelak mereka akan terkena hukuman Dewa dan berubah menjadi ular, berubah jadi tikus atau kecoa!
Mereka percaya dengan hukum karma.
Keyakinan itu terus dipelihara oleh Kerajaan, Pemerintah, dan rakyatnya sendiri.

Bagaimana dengan kita?
Korupsi kita terus merajalela, pungli dan rasuah di mana-mana, bohong sudah biasa.
Kita telah coba atasi ini semua dengan sistem dan hukum.
Waskat kita galakkan, ternyata semakin diawasi malah semakin nekat. Bahkan pengawas dan yang diawasi sudah sepakat.

Dulu kita masih takut dengan neraka, tapi sekarang orang menertawakannya, bahkan orang-orang pintar itu selalu berkata, “Sudahlah jangan bicara tentang neraka, bicara yang ilmiah dan konkrit saja!” Kalau tidak percaya coba saja ketika sedang seminar atau rapat, acungkan jari lalu Anda ingatkan mereka tentang neraka dan surga, niscaya mereka akan menyeringai kepada Anda sambil memperlihatkan giginya.

Kita ini sudah sombong kepada Sistem Allah, kita mencoba memungkiri neraka dan akhiratNya, maka inilah akibatnya, masyarakat kita kehilangan rasa takut akan neraka, kehilangan malu, akibatnya korupsi merajalela, pungli dan bohong itu biasa, pergaulan bebas itu ungkapan cinta!

Bangsa kita sesungguhnya adalah bangsa yang religius, masjid kita saja di Indonesia berjumlah satu juta! Ingatlah, kita ini bukan seperti bangsa Barat yang mengandalkan sistem yang tidak beriman kepada Hari Pembalasan. Tidak perlulah kita ikut-ikutan mereka.

Jangan malu-malu manjadi orang Islam, ceritakan tentang neraka dan syurga di tengah seminar ilmiah yang prestisius sekalipun. Percayalah tidak akan turun intelektualitas Anda. Orang akan tetap menghormati Anda. Toh akhirnya kita semua akan mati juga…

“Inilah neraka jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa. Mereka berkeliling diantaranya dan diantara air yang mendidih yang memuncak panasnya.” (QS. Ar-Rahman ayat 43-44)

Thailand, 3 Mei 2012
Ary Ginanjar Agustian

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s