Jangan Terbalik


Ilustrasi: wukuf di Arafah

Pada tahun 1998 terjadi reformasi yang menjatuhkan Era Orde Baru di Indonesia. Keberhasilan pembangunan fisik yang luar biasa kala itu ternyata tidak mampu mempertahankan kelanggengan pemerintahan. Runtuh dalam sekejap. Semua langsung tersadar dan bergumam: “Itulah akibat kita hanya fokus pada pembangunan fisik semata.”

Sekarang sudah lebih dari 10 tahun reformasi berlalu, luka itu belum mengering, akan tetapi kita masih tetap melakukan kesalahan yang sama, berulang-ulang. Berulang-ulang memasuki lubang ular yang sama. Kita terus saja membangun fisik dan mengejar pertumbuhan ekonomi sebagai tanda keberhasilan, akan tetapi pembangunan jiwa kita tertinggal.

Ibarat balap lari sprint 100 meter di Olimpiade, badan kita sudah mencapai garis finish, akan tetapi “Jiwa dan Ruh” kita ketinggalan di belakang. Sang jasad fisik mendapat medali emas, diberi penghargaan, ditepuk tangani, dipuji, akan tetapi “Jiwa dan Ruhnya” masih planga-plongo terkapar di garis start!

Di Era Lady Gaga ini, alhamdulillah meskipun ia tidak jadi datang, sepatutnya kita tetap merenung, sambil melihat ke dalam diri, melihat ke sekeliling kita, apa sesungguhnya yang kita tuju? Apa yang sesungguhnya kita inginkan?
Apa sesungguhnya yang sedang kita bangun?
Dan apa yang sedang kita lakukan selama ini?
Benarkah kita sedang berjalan benar menuju “alamat” yang kita tuju?
Atau jangan-jangan alamat kita memang salah?

Masih ingat ketika masih di sekolah kita diajari Teori Hirarki Kebutuhan Manusia Abraham Maslow yang kesohor itu? Yang mengajarkan bahwa Basic Needs seperti sandang dan papan adalah kebutuhan yang pertama, baru kemudian kedua disusul oleh Safety Need seperti tabungan dll. Lalu Social Need, kemudian Self Esteem seperti pengakuan dll. Dan terakkhir barulah Self Actualization.
Di tingkat ini manusia berada pada kesadaran spiritualitas dimana manusia sudah mengenal arti hidup dan tujuan hidup yang hakiki. Tapi kebanyakan manusia tidak puas-puas di urutan pertama dan kedua, sehingga manusia terus mengejar harta dan jabatan dgn segala cara.

Ketahuilah, di akhir hayatnya sebelum meninggal dunia, Abraham Maslow mengatakan bahwa teorinya terbalik! Artinya kebutuhan dasar manusia yang pertama seharusnya adalah Self Actualization, artinya pertama manusia harus tahu jati dirinya terlebih dahulu sebelum meningkat ke kebutuhan yang lain.
Karena dengan cara inilah manusia akan tahu tiga hal ini: “Siapa dirinya? Di mana dirinya? Mau kemana dirinya?

Kita sudah melihat bagaimana akibat apabila manusia tidak tahu ketiga hal diatas. Manusia akan terus-menerus berlomba-lomba mencari harta (Basic Needs Maslow) dengan menghalalkan segala cara, lalu mengumpulkan harta hasil korupsinya untuk “Safety Needs” katanya.
Akan tetapi intinya, akibat manusia yang sudah tidak lagi mengenal siapa dirinya, tidak tahu di mana dirinya, dan tidak tahu mau ke mana dirinya.

Sudah saatnya kita evaluasi ajaran Abraham Maslow yang hanya melahirkan Manusia Ras Non Manusia. Kembalilah ke ajaran Nabi Ibrahim a.s.
Sesungguhnya Nabi Ibrahim mengajarkan ini semua dalam urutan haji.

Urutan pertama justru manusia harus “Wukuf” atau diam sejenak agar tahu siapa dirinya, mau ke mana dirinya, dan dari mana ia berasal? Inilah jawaban Self Actualization versi Nabi Ibrahim a.s.

Setelah itu lontar jumrah untuk membuang jauh-jauh “self esteem” yang membuat manusia ingin selalu dipuji, ingin selalu dihormati.

Kemudian barulah bisa membangun kebersamaan dan ketentraman “Social Needs” dimana manusia berthawaf bersama dengan badan berbungkus kain ihram menuju Tuhan yang Esa, manusia sama di mata hukum, sama di mata Tuhan. Ini esensi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Terakhir barulah “Basic Needs” air kehidupan harus dikejar dengan berlari Sa’i seperti Siti Hajar, maka niscaya “air zam-zam” akan keluar dan memancar tiada henti di negeri ini.

Akan tetapi kita terbalik-balik, tidak sesuai urutan Nabi Ibrahim, karena kita langsung saja Sa’i mengejar air zam-zam (membangun fisik) tanpa mau Wukuf (mengenal jati diri) tanpa mau Thawaf (persatuan dan kebersamaan), maka akibatnya kita kena “Dam” atau denda dari Tuhan.
Bukan zam-zam yang keluar dari bumi kita, tapi lumpur, tsunami, gempa bumi, dan lahar gunung berapi.

“Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.
Yang Mengajar manusia dengan perantaraan kalam.
Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-Alaq: 1-5)

Jakarta, 27 Mei 2012
Salam 165,
Ary Ginanjar Agustian

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s