Perjalanan 13 Tahun ESQ


Menara 165

Apakah Anda masih ingat dengan merek Kodak, Compaq, Xerox, Holden, Odol (pasta gigi), atau Bouraq? Nama-nama produk yang dulu terkenal itu kini sudah samar-samar, bahkan tak terdengar lagi. Masih banyak merek atau perusahaan yang dulu dikenal hebat, saat ini mati tergilas zaman.

Begitulah zaman terus berubah, tuntutan yang dihadapi perusahaan atau organisasi saat ini selalu tidak sama dengan masa-masa sebelumnya. Tekanan kompetisi, regulasi, meningkatnya ekspektasi pelanggan, dan pertumbuhan teknologi yang semakin cepat, merupakan tantangan eksternal yang semuanya memacu perusahaan untuk segera melakukan perubahan. Jika tidak, maka bisa jadi organisasi atau perusahaan tidak mampu bertahan di masa akan datang.

Kerontokan perusahaan dunia disebabkan dua hal pertama lambatnya melakukan transformasi dan kedua keliru dalam melakukan transformasi. Banyak perusahaan yang hanya terfokus pada transformasi sistem (business transformation) yang mencakup struktur, manajemen, dan strategi. Namun melupakan transformasi kedua yaitu transformasi budaya (culture transformation) yang terdiri dari: keyakinan atau belief, nilai atau values yang akan berujung pada karakter.

Transformasi budaya perusahaan adalah sebuah upaya untuk menanamkan misi, visi dan nilai perusahaan sehingga terinternalisasi dalam diri seluruh unsur organisasi atau perusahaan. Penelitian Pfefer (1995) menunjukkan bahwa pertumbuhan dan financial return karena transformasi budaya perusahaan dapat mencapai ribuan persen.

Kesadaran ini juga dirasakan ESQ Leadership Center, yang kini gencar mensosialisasikan pentingnya transformasi budaya pada perusahaan, instansi, atau organisasi. Munculnya, kesadaran ini bukan semata-mata didukung aspek teoritis semata, namun justru secara empiris merasakan dan mengalami sendiri.

Setelah transformasi pertama mengubah buku ke dalam bentuk pelatihan sumber daya manusia dengan mengasah kecerdasan emosi dan spiritual, ESQ demikian melesat. Pendekatan penyadaran aspek spiritual dengan pendekatan high tech menggunakan laptop yang saat itu masih jarang, multimedia, dan sound system yang powerfull, menjadikan ESQ sedemikian diterima masyarakat.

Pertumbuhan perusahaan sedemikian signifikan. Peserta training baik individu maupun korporasi terus mengalir, tanpa usaha marketing yang terlalu berat. Kekuatan ESQ saat itu justru terletak pada “word of mouth marketing”, yang mana peserta alumni training ESQ sendirilah yang langsung menjadi agen marketing, merekomendasikan keluarga, saudara, atau koleganya untuk ikut training. Bahkan tak jarang malah yang membayarkan investasinya.

Dengan pertumbuhan peserta yang terus meningkat, ESQ pun makin banyak merekrut karyawan, melakukan penambahan investasi peralatan training, juga mulai membangun Menara 165. Gedung berlantai 27 ini ditujukan sebagai pusat pembangunan karakter dan sebagai tonggak kebangkitan moral bangsa.

Namun seiring waktu, dengan makin marak training sejenis, produk yang tidak berkembang, peserta training ESQ pun makin berkurang. Dengan beban karyawan yang kian bertambah, tentu menjadi sangat berat, beberapa tahun ESQ mengalami kerugian, sehingga harus merumahkan sebagian karyawannya.

Sebagaimana disampaikan Presdir ESQ, pada masa-masa sulit itulah ESQ mulai melakukan transformasi. Jika selama periode 10 tahun pertama hanya melakukan personal transformation atau perubahan karakter individu. Sejak pertengahan 2011 mulai bergerak pada perubahan kultur atau budaya perusahaan. Mei 2011 ESQ meluncurkan jasa konsultan untuk membangunan budaya perusahaan yaitu ACT (Accelerated Culture Transformation) Consulting yang membantu lembaga atau korporasi untuk melakukan pembangunan budaya. Selama satu semester berjalan ACT Consulting telah menangani lebih dari 30 perusahaan di perusahaan nasional maupun mulitinasional, salah satunya perusahaan otomotif Proton Malaysia. Dengan mendirikan ACT Consulting ESQ tidak hanya membangun karakter tapi budaya organisasi, departeman, bahkan juga provinsi.

Jika dulu hanya ada trainer-trainer, kini ESQ didukung oleh konsultan berkelas internasional di berbagai bidang. Mereka adalah expert yang memang sudah puluhan tahun bekerja di perusahaan multinasional dan sangat berpengalaman dalam melakukan transformasi di perusahaannya.

Transformasi apa saja yang dilakukan di ESQ? Salah seorang senior consultan ACT Consulting Nizar Mansyur menjelaskan bahwa sebelumnya ESQ sangat product oriented jadi dibuat dulu produk-produknya, baru ditawarkan. Saat ini ESQ sangat custumer oriented jadi memberi solusi pada customer. “Jadi kita membuat produk yang sesuai kebutuhan pelanggan. Kalau pelanggannya perlu A, ya kita beri A, kalau pelanggannya perlu B, ya kita beri B. Kalau pelanggan menghadapi problem C, ya kita betulkan C, jadi tak usah dipaksakan dengan A, jadi kita menyesuaikan. Ini berbeda sekali, jadi nama yang dari product driven, menjadi custumer driven,” ujarnya.

Perubahan lain, sebelumnya ESQ lebih banyak selling atau menjual, kalau sekarang lebih banyak counsulting. “Nah, kalau consulting artinya kita seperti dokter, kita harus menganalisis dulu. Sebelumnya kita buat produk lalu kita jual. tanpa tahu yang dibutuhkan customer apa. Kalau dia beli ya Alhamdulillah. Kalau consulting seperti dokter kita melakukan analisis dulu permasalahannya dan apa yang dibutuhkannya, baru kita tawarkan produk yang sesuai dan cocok untuk mereka. Berbeda sekali, jadi orientasinya lebih pada solusi, sedangkan sebelumnya lebih pada product. Oleh karena itu kita menyebutnya dari product ke custumer driven, kemudian dari selling menjadi consulting,” ujar Nizar.

Dalam metode penyampaian training pun berbeda. “Dulu kita lebih banyak one way jadi ikut kelas, duduk dan lebih banyak mendengarkan. Sekarang banyak sekali diskusi.”

Dengan berbagai perubahan ini, kondisi perusahaan ESQ kembali stabil. Produk-produk baru bermunculan seperti Service from Heart, Communication from Heart, Leadership from Heart, Integrity, Agent of Change serta Culture Change, sehingga memungkinkan perusahaan untuk mendapat pilihan training lebih banyak.

Namun meski begitu banyak yang telah berubah dalam hal produk, metoda, konten, dan kemasan, ESQ tidak meninggalkan ruh atau jiwanya, yang bernuansakan spiritual. “Ruh dan jiwanya tetap ESQ 165. Kita membuat produk apapun selalu ada unsur emosional dan spiritual di dalamnya,” ujar Ary Ginanjar sang pengawal perubahan.

Dalam peringatan ulang tahun ESQ ke 13 ini memang sudah banyak yang berubah. Selain kondisi perusahaan yang sudah stabil juga selesainya Menara 165. Hal ini ditandai dengan pemasangan lampu bertuliskan Allah di puncaknya. Yang tak kalah penting adalah berdirinya ESQ Business School yang akan menghasilkan para calon pemimpin berkarakter. Semoga cita-cita Indonesia Emas 2020 tujuh tahun mendatang akan tercapai, yaitu Indonesia berkarakter berlandaskan 7 Budi Utama yaitu jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli.

* Dicuplik dari majalah ESQ Media edisi perdana (Mei 2013)

Tulis Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s